Lynx merasa putus asa saat berjalan tanpa arah di kota yang terlalu luas. Pikirannya dipenuhi penyesalan. "Apa gunanya kekuatanku jika aku tidak dapat menemukan mereka? Sekarang malah kehilangan Jelita," batin Lynx, menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa melindungi orang-orang yang penting baginya.

Ia berjalan dengan langkah lambat, berusaha mencari jejak Jelita di antara kerumunan. "Aku ingin berlari cepat dengan kecepatanku untuk memeriksa satu per satu orang yang kurasakan memiliki kultivasi Forging Qi tingkat satu, tapi terlalu ramai di sini. Jika aku melakukannya, pasti akan menimbulkan kecurigaan sebelum berhasil menemukannya," pikir Lynx sambil menggaruk kepalanya, kebiasaan lama yang sudah jarang ia lakukan.

Tiba-tiba, sebuah suara lembut yang diiringi isak tangis tertahan memanggil namanya, "Xiao Ling." Lynx segera menoleh ke samping dan melihat Jelita berdiri di pinggir pondok dekat taman.

Jelita berlari ke arahnya dan memeluknya erat. "Aku kira tidak akan menemukan kepala suku lagi," katanya sambil menangis.

Lynx merasa lega menemukan Jelita dalam keadaan baik-baik saja. Dengan lembut, ia mengelus rambut Jelita, menenangkannya. "Maafkan aku yang selalu membuatmu menangis dan takut," batin Lynx, merasa bersalah karena sering kali membuatnya merasakan kesedihan dan ketakutan.

Setelah beberapa saat, Jelita mulai mengendalikan emosinya dan melepaskan pelukannya dengan wajah yang memerah. Rasa bahagia karena menemukan Lynx membuatnya lupa diri sejenak.

"Xiao Ling, tadi aku melihat Leena," katanya tiba-tiba setelah berhasil menenangkan diri.

Lynx tercengang mendengar pengakuan itu. "Betulkah? Di mana kamu melihatnya? Di mana dia sekarang?" tanyanya dengan antusias.

"A...aku tidak tahu. Dia pergi terbang begitu saja," jawab Jelita dengan suara lemah.

"Terbang?" ulang Lynx, membayangkan sosok wanita seperti Leena yang juga ditemui sebelumnya.

Lynx melihat kondisi Jelita yang terlihat lelah dan sedih, sehingga ia mengajak, "Kita cari tempat dulu untuk beristirahat. Kamu bisa ceritakan lebih lanjut apa yang terjadi sambil kita mencari penginapan," katanya, berusaha menenangkan dan mengajaknya pergi.

"Yun Qing, apa yang terjadi? Aku menemukan ini di jalan. Apakah kamu menjatuhkannya? Dan bagaimana kamu bisa bertemu sosok seperti Leena?" tanya Lynx dengan nada berusaha setenang mungkin sambil menyerahkan kertas formasi ke Jelita. Dia dapat merasakan detak jantungnya berdebar kencang, menunggu informasi tentang Leena. Lynx tahu perasaan Jelita terhadap dirinya, sehingga ia harus berhati-hati menanyakan tentang Leena agar tidak menyakitinya.

"Aku bertemu seseorang yang berniat buruk terhadapku. Setelah melawan pria tersebut, aku merasakan sakit di leher dan tidak mengingatnya lagi," kata Jelita memulai penjelasannya.

"Siapa pria itu? Lalu bagaimana kamu bisa meloloskan diri?" tanya Lynx.

Jelita menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mengenalnya. Dia bilang kamu menyuruh dia untuk menjemputku. Namun, aku tahu dia bohong karena kertas formasi pemberianmu mengarah ke arah yang berbeda dengan yang dia tunjukkan."

Jelita menghembuskan napas panjang. "Saat tersadar, aku sudah berada di tempat tadi. Dan wanita itu mengatakan dia menyelamatkanku. Setelah itu dia pergi karena ada urusan penting."

"Apakah kamu melihat wajahnya? Apakah memang Leena?" Lynx mulai tidak sabar mendengar cerita Jelita.

"Aku memang melihat wajahnya sama persis, tapi gaya bicara, penampilan terasa sangat berbeda. Dia terkesan sangat anggun mempesona, dan pakaiannya juga terlihat mewah," kata Jelita sambil mengingat penampilan wanita tersebut.

"Apakah dia menggunakan pakaian putih dengan hiasan sulaman perak?" tanya Lynx.

"Aku tidak memperhatikannya, karena aku terlalu kaget. Aku bahkan baru menyadarinya setelah dia menghilang," keluh Jelita, menyesali sikapnya yang terlambat menahan wanita tersebut untuk mengetahui lebih jauh.

"Kenapa kamu tahu dia memakai baju putih dengan hiasan sulaman perak?" Jelita tiba-tiba bertanya karena menyadari ada yang salah dengan kata-kata Lynx.

Lynx berhenti melangkah dan menatap mata Jelita lalu menghembuskan napas panjang, melepaskan sesal di hatinya. "Sebenarnya aku juga bertemu dengannya tadi. Namun karena kaget, sama sepertimu, aku lupa untuk menahannya agar bisa mengetahui siapa dirinya."

Keduanya saling berpandangan, merasakan perasaan bersalah dan kehilangan atas kesempatan yang terlewat. Mereka berdiri dalam keheningan, mencoba memahami situasi yang baru saja mereka alami.

"Xiao Ling, apakah menurutmu pria yang berniat jahat kepadaku tadi itu ada hubungannya dengan Gao Zhen?" tanya Jelita dengan khawatir. Mereka baru saja keluar dari desa, dan tidak banyak orang yang mereka temui sehingga dia bisa menghitung jumlah orang yang dapat dicurigainya.

"Aku tidak yakin, tapi jika memang itu mereka, aku tidak akan melepaskan mereka," kata Lynx, berusaha menenangkan.

"Aku ingin belajar lebih giat lagi berkultivasi agar bisa lebih kuat dan membantumu," kata Jelita dengan penuh tekad.

Lynx tersenyum, "Jade Serene Flow, itu adalah teknik kultivasi yang sangat hebat. Kamu pasti bisa menjadi kultivator hebat ke depannya nanti."

Jelita menganggukkan kepalanya dengan semangat. Dia bertekad akan tekun berlatih agar tidak menjadi beban bagi Lynx dan dapat membantunya.

"Qi spiritual di tempat ini tidak terlalu banyak, binatang iblis dan tanaman spiritual juga sangat jarang ada. Sepertinya aku harus mengajak Jelita ke tempat yang lebih bagus energi spiritualnya, atau membuatnya bisa masuk ke sekte besar agar bisa mendapatkan sumber daya untuk meningkatkan kultivasinya," pikir Lynx.

"Ke mana kita sekarang, Xiao Ling?" tanya Jelita.

"Kita akan pergi ke penginapan paviliun Bulan Perak, tempat yang diceritakan oleh pelayan di rumah makan tadi," kata Lynx.

"Apakah kamu mengetahui tempatnya?" tanya Jelita penasaran.

Lynx menganggukkan kepalanya dan tersenyum. "Saat kita berbelanja di pasar tadi siang, aku sudah bertanya-tanya kepada orang sekitar mengenai Penginapan Bulan Perak dan sudah tahu di mana lokasinya," kata Lynx menjelaskan.

"Baiklah, ayo kita segera ke sana. Aku merasa sangat lelah," kata Jelita sambil meregangkan tubuhnya.

Lynx dan Jelita segera berjalan menuju penginapan yang direkomendasikan pelayan di rumah makan, Paviliun Bulan Perak, salah satu yang terbaik di Kota Houling. Penginapan ini megah, berlantai tiga dengan gaya arsitektur klasik yang mewah. Lentera-lentera merah menggantung di bagian depan, memberikan suasana hangat dan elegan, seolah menyambut setiap tamu yang datang dengan kehangatan.

Setibanya di sana, Lynx berjalan langsung ke meja resepsionis dan memesan dua kamar. “Dua kamar untuk satu malam,” katanya singkat sambil meletakkan beberapa koin perak di atas meja, menyelesaikan transaksi dengan cepat.

Jelita yang berdiri di sampingnya menoleh dengan alis berkerut. “Dua kamar?” tanyanya, suaranya terdengar sedikit kecewa dan bingung.

Lynx mengangguk. “Ya, kau tidur di kamar sendiri, aku di kamar lain,” jawabnya dengan tegas.

Jelita menggigit bibirnya, merasa sedikit tersinggung. “Kenapa harus begitu? Kita bisa berbagi satu kamar,” sarannya, berharap bisa tetap dekat dengan Lynx dalam perjalanan ini.

Lynx menatapnya sejenak sebelum berkata dengan nada datar dan penuh pertimbangan, “Di dunia ini, kalau bukan suami istri, tidak seharusnya tidur sekamar. Kecuali saat sedang melakukan perjalanan yang jauh dari pemukiman penduduk.

Ucapan itu membuat Jelita terdiam. Sesaat, kilasan kenangan masa lalu membayangi benaknya—masa-masa ketika mereka dulu adalah suami istri, berbagi kamar dan momen-momen kebersamaan yang kini terasa seperti mimpi yang jauh. Setelah ingatan Lynx kembali, semua itu seolah lenyap dalam sekejap.

Jelita menghela napas, berusaha menyembunyikan kesedihan yang merayap di hatinya. “Baiklah,” katanya pelan, menerima keputusan Lynx meskipun terasa berat di hatinya.

Setelah mendapatkan kunci kamar, mereka pun menuju lantai dua dan masuk ke kamar masing-masing. Kamar penginapan ini cukup luas dan nyaman, dengan tempat tidur besar, meja kayu yang dipahat rapi, serta jendela besar yang menghadap ke kota. Lynx tidak membuang waktu lama. Setelah membersihkan diri, ia duduk di dekat jendela, menikmati angin malam yang berhembus pelan, mencoba menenangkan pikirannya yang dipenuhi oleh banyak hal.

Sementara itu, di kamarnya sendiri, Jelita berbaring di tempat tidur, memikirkan percakapan tadi dan kenangan masa lalu yang terus membayangi. Ia tahu bahwa perjalanan ini bukan hanya tentang menemukan para penduduk Surya, tetapi juga tentang menghadapi masa lalu dan menemukan kembali tempatnya di sisi Lynx.

